Jerry Yang Tak Pernah Jeri
Jerry Aurum adalah seorang
entrepreneur dalam bidang fotografi yang sukses. Kesuksesannya bermula pada
saat berusia sekitar lima tahun, pada saat itu Jerry kecil mulai mencoba-coba
kamera milik ibunya. Kemudian berlanjut pada saat duduk di kelas dua SMA,
beliau memulai untuk serius dalam bidang fotografi. Oleh karena itu dia
menabung untuk membeli satu buah kamera yang pertamanya. Kemudian jerry
melanjutkan pendidikannya menuju perguruan tinggi yaitu ITB (Institut Teknologi
Bandung). Dengan mengambil jurusan Komunikasi Visual, ia berhasil lulus dengan
predikat cum laude.
Setelah lulus jerry memutuskan untuk pergi dari Medan menuju ke Jakarta,
setelah empat bulan di Jakarta beliau memutuskan untuk memulai peruntungannya. Setelah
dua kali berpindah kerja di dua perusahaan selama tiga bulan tiga minggu
kemudian beliau memutuskan untuk menjadi wirausahawan pada usia 24 tahun.
Dengan bermodalkan 500 eksemplar kalender yang di hiasi foto – fotonya, ia
bagikan ke 300 perusahaan dan sisanya ke kerabat dekatnya. Jerry mulai
mengoperasikan usahanya yang bernama jerry Aurum Desain and Photography di
sebuah rumah kecil berukuran 2,5 x 2,5 m di pinggiran Jakarta.
Dengan mengincar pasar – pasar premium jerry dihadapkan pada tantangan
dan resiko yang sangat besar. Akan tetapi dengan kekuatan keyakinan yang kuat
upayanya akhirnya berhasil. Jerry mendapat lima tawaran kerja dari lima
perusahaan berbeda. Proyek pertama dari perusahaan perminyakan, connoco
Philips, yang memintanya terlibat dalam pemotretan kilang minyak di pedalaman
daerah Palembang. Keuntungan yang ia peroleh dari pekerjaannya tersebut yang
nominal fee-nya mencapai Rp. 45 juta, pada saat itu jerry menempatkan posisi
menapaki dunia usaha sesungguhnya. Sejak saat itu ia tidak pernah menaruh harga
rendah untuk usaha yang dilakukannya, menurutnya pasar premium tidak melihat
harga akan tetapi kualitas dan profesionalisme dari seseorang. Tidak ada
toleransi untuk kesalahan sekecil apa pun.
Maka itu menaruh harga tinggi demi tanggung jawab terhadap kualitas yang
selalu ia junjung tinggi. Baginya, percaya diri adalah kunci utama untuk
bermain di pasar premium. Jerry mengamati, kurangnya percaya diri sering kali
menjadi alas an kurang berkembangnya perancang grafis dan fotografer Indonesia.
Jerry pun tak lupa tanggung jawab soial pada lingkungannya, ia pun tak segan
turun tangan membiayai proyek nonprofit seperti pameran, mengajar, hingga
mengonsep desain tukang roti yang tak punya cukup uang untuk membayarnya.
Keyakinannya, “Selalu ada keuntungan yang bisa kita dapat dari membagi isi
kepala kita pada lingkungan.”
Jalan Jerry masih belum akan berhenti. Disamping membangun usahanya yang
sudah ke sejumlah Negara, beliau juga mempunyai pekerjaan lain seperti menjadi
juri hingga menjadi narasumber di berbagai seminar. Menurut salah satu rekannya
sebagai juri, jerry adalah seorang yang pandai, mempunyai ambisi tinggi dan
gigih memperjuangkan targetnya. Namun tetap rendah hati. Jerry mempunyai kiat
khusus untuk sukses yakni pandai membaca dan cermat bereksplorasi dengan
sejumlah eksperimen.
Jerry juga menerbitkan sebuah buku berjudul Femalography yang menjadi
second best recommended book di singapur. Gelar yang jarang diraih buku – buku
karya orang Indonesia. Menjelajah plosok tanah air dan berbagai tempat menarik
di belahan dunia adalah caranya menambah wawasan agar kreatifitasnya tak jalan
di tempat. Ia meyakini, “ Senjata kreatif itu terus mencoba hal baru. Sekali
stuck, selesai.” Kini jerry sudah menjadi salah satu seorang fotografer kelas
dunia, ia berhasil membuat rangkaian karya yang melibatkan lebih dari 100
wanita cantik dan ternama.
Sifat – sifat yang di miliki :
1.
Berani
menanggung resiko
Meskipun
tidak mempunyai modal yang besar, jerry tidak mau bermain aman dengan mengincar
pasar menengah. Akan tetapi beliau menincar pasar premium dan juga memasang
harga yang tidak rendah untuk karyanya
2. Senang
Mempelajari Hal-Hal Baru
Menurutnya
, “ Senjata kreatif itu terus mencoba hal baru. Sekali stuck, selesai.”
3. Senang
Melayani Dan Memberi
Meskipun sudah menjadi orang
sukses ia pun tak segan turun tangan membiayai
proyek nonprofit seperti pameran, mengajar, hingga mengonsep desain tukang roti
yang tak punya cukup uang untuk membayarnya